by

Tipu Warga Rp 360 Juta, Mantan Kasatpol PP Simalungun Ditahan Kejari

Pematangsiantar, Kabarnas.com – Kasus proyek fiktif hibah bangunan sekolah dari sumber anggaran Kementerian Agama (Kemenag), yang menyeret mantan Kasatpol PP Pemkab Simalungun, Jhonri Wilson Purba akan menjalani jadwal sidang. Sebab berkas perkara tersebut sudah dinyatakan Kejari Pematangsiantar lengkap, setelah sebelumnya ditangkap di salah satu warung kopi yang ada di Jalan Surabaya, Kecamatan Siantar Barat, Kamis (16/7/2020) yang lalu. Hal ini dibenarkan, Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar, AKP Edi Sukamto, Rabu (9/9).

Tersangka Jhonri Wilson Purba selama ini ditahan penyidik unit Tipiter Sat Reskrim Polres Pematangsiantar, atas laporan pengaduan Erwin Siahaan bernomor LP/522/X/SU/STR tertanggal 16 Oktober 2019 lalu. Perkara ini masuk ranah hukum karena Erwin mengalami kerugian Rp 360 juta. Tersangka mengiming-iminginya dengan proyek pembangunan sejumlah gedung sekolah seperti SMU Pelita.

Kasat Reskrim mengatakan, seiring dengan berkas itu maka tersangka telah menjadi tahanan Kejari. Walau demikian, pihaknya masih menelusuri dugaan adanya keterlibatan orang lain. Sementara dalam perkara ini tersangka  dipersangkahkan Pasal 372 Subs 378 KUHP tindak pidana penipuan dan penggelapan.

Sebelumnya, Erwin Freddy Siaahan selaku korban mengatakan, awalnya ia berkomunikasi dengan Jonri Wilson Purba tanggal 16 Juli 2018. Hasil pembicaraan mereka, mantan Camat Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun itu menawarkan proyek. Korban pun sempat diyakinkan setelah dibawa ke Jakarta. Namun, bulan dan tahun ke tahun berlalu, proyek senilai Rp 300 juta tersebut tak kunjung ada.

Erwin memang mengaku, sempat tidak ragu dengan janji yang diterimanya karena saat itu Jhonri masih berdinas di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut). “Diiming-imingilah. Saat itu dia kerjanya di provinsi. Waktu itu jabatannya, katanya di Disnaker,” ucapnya dengan menambahkan bahwa ia pun sempat mendengar sendiri dari Jonri beberapa jabatan yang sempat dipegangnya.

Atas keyakinan itu, Erwin yang juga pengusaha properti itu mengaku sempat memberikan uang sebesar Rp 360 juta sesuai permintaan Jonri, dengan alasan butuh biaya akomodasi Rp 60 juta dan Rp 300 juta untuk biaya proyek. Erwin pun menyanggupinya. Sayangnya, setelah uang diserahkan, tak ada perkembangan atas proyek itu. Hingga setahun berlalu, Jhonri tidak memberikan penjelasan.

Sadar proyek yang dijanjikan tidak ada lagi, Erwin pun mencoba meminta kepada Jonri agar mengembalikan seluruh uangnya. Namun Jonri dinilai justru tidak punya etikad baik. “Saat saya cek ke Kemenag Jakarta, ternyata proyek tersebut fiktif. Akhirnya saya memilih melaporkan kasus ini ke polisi tangggal 16 Oktober 2019. Biarlah proses hukum berlanjut terus,” ucapnya. (Man)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *