by

Panen Sawit Sendiri Nenek 80 Tahun Didakwa Mencuri

Simalungun, Kabarnas.com – Esterlan Sihombing, seorang nenek berusia 80 tahun diperhadapkan ke meja sidang di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun sebagai terdakwa. Ia sebelumnya dijadikan tersangka karena diduga melakukan pencurian buah sawit sebanyak 3 ton atau senilai Rp 2.910.000 milik Edy Ronald Simbolon, lewat orang suruhannya.

Esterland Sihombing kali ini mendengarkan sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang meringankan. Adapun, saksi yang memberikan keterangan adalah Kepala Dusun III, Nagori Jawa Baru, Kecamatan Huta Bayu Raja, bernama Lambok Putra Sinaga. Lambok menjelaskan bahwa, tanah yang berdiri tanaman sawit adalah kepunyaan Nenek Esterlan.

Saat datang Esterlan datang dan menuju ruang Tirta PN Simalungun, dengan berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat nenek, Esterlan sendiri berharap agar jaksa menggunakan hati dan kejujuran saat mengadilinya. “Harapan saya, jaksa jujur dan nggak neko-neko. Bisa bijak sebenar-benarnya,” ujarnya, Senin (7/9).

Kepada sejumlah wartawan, nenek yang sudah sakit-sakitan tersebut mengaku bahwa perkara berawal dari jual beli lahan sawit dan yang menjual itu adalah putri sendiri, Rotua Simbolon kepada Edy Ronald Simbolon. Namun Esterlan mengaku tidak mengetahui perkara jual beli tanah dan dianggapnya tidak sah secara hukum. Apalagi di lahan sawit itu rumah Estelan masih berdiri. Atas ketidaktahuannya itu, pada April 2019 yang lalu Esterlan menyuruh orang memanen sawit.

Sementara penasehat hukumnya Parluhutan menjelaskan, penjualan tanah ini tak jelas. Sebab jual beli tanah hanya kwitansi dan tidak ada saksi termasuk Esterlan sendiri. Namun Polsek mengklaim bahwasanya sah, ini tanah Ronald. Adapun Nenek Esterlan hingga kini mengaku tak menerima uang penjualan tanah miliknya itu.

Ia menyampaikan, sepengetahuannya sawit itu ditanam Esterlan dan almarhum suami, Jalongin Simbolon. Pengacara Esterlan, Parluhutan Banjarnahor SH menambahkan, tanah tersebut sedang dalam status sengketa di Pengadilan Tinggi Medan. Oleh sebab itu, Esterlan tak layak diadili dalam kasus pidana.

Dengan demikian, ujar Banjarnahor, sebelum adanya keputusan hukum dari kasus perdata itu, seyogyanya nenek Esterlan tidak bisa diadili dalam dugaan tindak pidana pencurian kelapa sawit. “Makanya kasus ini seakan dipaksakan oleh Polsek Tanah Jawa dan kejaksaan. Sebab tanah yang berdiri sawit itu masih dalam sengketa di Pengadilan Tinggi Medan,” tutup Parluhutan Banjarnahor. (Man)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *