by

Pembunuh Duda 7 Anak di Samosir Ditembak Polisi

Samosir, Kabarnas.com – Setelah tiga minggu melarikan diri, satu orang diduga pelaku yang membunuh Rianto Simbolon berhasil ditangkap Polres Samosir dari Kampung Raya, Kabuparten Asahan, Selasa (2/9) sekitar pukul 3.00 WIB, dini hari. Bagian tempurung kedua kaki tersangka Pahala Simbolon pun terpaksa ditembak polisi karena berusaha melarikan diri lagi.

Kasat Reskrim Polres Samosir AKP Suhartono mengatakan, sebagai upaya menghindari jejak dari polisi, selama ini tersangka berpindah-pindah tempat. Pertama kali tersangka lari ke Kabupaten Dairi, kemudian berangkat ke perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dengan Provinsi Riau, tepatnya di Rokan Hulu dan sebelum ditangkap, pria berusia 24 tahun tersebut sempat tinggal di rumah kekasihnya yang ada di Bagan Batu.

Setelah tertangkapnya Pahala Simbolon, saat ini total diduga pelaku yang diproses Polres Samosir sebanyak 5 orang, dimana sebelumnya, empat tersangka yakni Bilhot Simbolon (27), Tahan Simbolon (42), Parlin Sinurat (42), Justianus Simbolon (60) sudah ditangkap polisi kurang dari 24 jam dari waktu pembunuhan terjadi. Dan kini polisi masih mengejar satu orang lagi berisial TS. “Saat ini kita masih melacak keberadaan satu orang lagi,” kata Kasat Reskrim Polres Samosir AKP Suhartono saat dikonfirmasi, Kamis (3/9).

Sebelumnya, Kapolres Samosir AKBP Muhammad Saleh mengungkap otak pelaku utama pembunuhan terhadap duda 7 orang anak, yang tinggal di Desa Sijambur, Kecamatan Ronggur Nihuta tersebut adalah Julianus Simbolon, seorang kakek berusia 60 tahun. Ia tidak mempunyai kaki kiri. Dia yang mengatur perencanaan pembunuhan dan membagi peran kepada 5 tersangka lainnya di rumahnya sendiri. Padahal tersangka dengan korban masih memiliki hubungan keluarga yang sangat dekat.

Berdasarkan keterangan Justianus Simbolon, latarbelakang pembunuhan ini ada kaitannya dengan masa lalu keluarga mereka, dimana kakek korban disebut-sebut telah membunuh kakek tersangka. Namun motif utamanya adalah persoalan warisan tanah. Setelah mematangkan semua rencana, semua tersangka membunu Rianto Simbolon, Sabtu (8/8/2020)

Cara yang dilakukan para tersangka, mengatur peran masing-masing yang telah disepakati, Bilhot membuntuti aktivitas tersangka sepanjang hari, mulai dari pesta hingga saat korban sempat menuju arah Café yang ada di Jalan Ronggur Nihuta, Desa Pardomuan. Menjelang tengah malam, Bilhot menjemput PS di rumahnya, kemudian bersama-sama ke warung tuak yang sekaligus rumah tersangka Parlin.  Tidak lama kemudian Bilhot dan PS berangkat ke arah Pangururan dengan mengenderai satu unit sepeda motor untuk memastikan keberadaan korban.

Korban dipantau dari Gereja Advent dan setelah melintas menggunakan sepeda motor menuju simpang terminal Jalan Ronggur Nihuta, PS dan Bilhot berkoordinasi, juga berkomunikasi dengan tersangka lainnya menggunakan sambungan handphone. Lewat informasi itu Parlin dan Tahan datang ke lokasi. Berselang beberapa saat, PS meninggalkan Bilhot, bergegas menghidupkan mesin sepeda motor dan mengejar korban, tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP) PS menabrak korban hingga terjatuh.

Sejatan tajam yang disiapkan sebelumnya langsung dihunuskannya ke bagian rusuk korban, dan belum puas juga, PS memukul kepala korban menggunakan batu. Pada waktu  hampir bersamaan Parlin menusuk leher korban. Yakin korban tidak bernyawa lagi, PS menjempuat Bilhot dan mereka kabur ke arah Pintu Sona. Tiba di sana, keduanya meminta tersangka ES datang ke sana. Setelah berkumpul, mereka menuju rumah Justianus Simbolon. Sedangkan  tersangka Parlin dan Tahan menuju Sijambur Ronggur Nihuta.

Perlu diketahui, Rianto Simbolon ditemukan tergeletak berlumuran darah di pinggir jalan menuju Ronggurnihuta, tepatnya Desa Pardomuan I, Kecamatan Pangururan, Minggu (9/8) sekitar pukul 3.00 WIB. Bersama pria berusia 41 tahun ini ditemukan juga dua unit sepeda motor, gagang pisau, mata pisau, sarung dan satu potong baju kemeja putih dan celana.

Atas kasus ini, anak-anak korban yang terdiri dari 4 anak laki-laki dan 3 perempuan jarus hidup tanpa orangtua. Anak pertama bernama Menanti Simbolon berusia 17 tahun dan masih duduk di kelas XII SMA Negeri I Kecamatan Ronggur Nihuta, anak kedua dan ketiga dan keempat masih duduk di kelas I, II dan III SMP Ronggur Nihuta, anak kelima dan ke enam ada di Panti Asuhan Sitinoraiti, satu duduk di kelas 4 SD dan anaknya paling kecil masih berusia 5 tahun. Mereka kehilangan semuanya.

Menanti Simbolon mengaku, dulu ada sosok ayah yang melindungi mereka dari ragam perjalanan hidup. Ia tidak menyangka, beban berat ini diizinkan Tuhan untuk mereka hadapi, apalagi rasa duka atas kematian ibunya di tahun 2019 masih berbekas di batinnya. Seluruh anak korban harus menjalani kehidupan sehari-hari tanpa tahu siapa yang akan menafkahi dan bagaimana nasib mereka ke depan. Sebab, semasa hidup ayahnya, kehidupan mereka juga terbilang susah sehingga menjadi alasan untuk menitipkan dua anak korban di Panti Asuhan. (Man)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *