by

Terancam Hukuman Mati di Malaysia, Sidang TKI Asal Siantar Ditunda

Pematangsiantar, Kabarnas.com – Perjuangan orang yang mengasihi Jonathan Sihotang, TKI asal Kota Pematangsiantar yang terancam hukuman mati di Penang, Malaysia terus dilakukan. Tentu semua usaha itu diharapkan dapat meringankan hukuman pria yang memiliki dua orang anak tersebut.

Perjuangan untuk mengurangi hukuman bagi Jonathan kini punya ruang karena ada penundaan jadwal sidang, dari tangga 12 sampai tanggal 15 Oktober 2020 menjadi Namun, berdasarkan surat keterangan yang diterima dari KBRI Kuala Lumpur, sidang ditunda dan dilanjutkan pada tanggal 17 sampai tanggal 19 Februari 2021. Informasi ini pun sudah sampai ke tangan orangtua Jonathan dan kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Kota Pematangsiantar setelah istri Jonathan mengabarinya.

Sebagaimana diketahui, dalam persidangan tingkat awal dan kedua di Malaysia, warga di Jalan Damar Laut, Kecamatan Siantar Utara tersebut telah divonis hukuman mati.Dalam persidangan Jonathan Sihotang didampingi kuasa hukum dari Kantor Hukum Gooi dan Azura yang telah dihunjuk oleh KBRI Kuala Lumpur, Malaysia. Dan juga dimonitor oleh Satgas Citizen Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang.

Sedangkan informasi terakhir dari KBRI, dalam sidang selanjutnya, dari 47 orang saksi yang telah disiapkan jaksa penuntut umum, ada 26 orang akan memberikan keterangan secara tertulis dan lisan. Sidang berikutnya masuk tingkat kasasi karena sebelumnya Jonathan tidak mengakui keselahannya yang telah membunuh majikannya sendiri.

Atas penundaan jadwal sidang tersebut, keluarga kembali sangat berharap kepada Presiden Joko Widodo untuk berkomunikasi politik dengan memanfaatkan hubungan yang baik selama ini.”Hubungan yang baik antara Indonesia dan Malaysia, sehingga berharap Presiden Jokowi melakukan lobi politik agar memperingan hukumannya,” kata Parluhutan Banjarnahor, Rabu (2/9).

Asdin Sihotang (58) bersama istrinya, Maslina Nainggolan (60) selaku orangtua dari Jonathan juga berharap banyak kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan juga kepada DPR RI agar membantu keringanan hukuman, apalagi anaknya membunuh tidak lepas dari sikap majikannya yang tidak memberikan gaji untuk satu tahun kerja. Sementara saat itu Jonathan hendak pulang ke Pematangsiantar untuk melihat buah hatinya yang masih bayi.

Sepengetahuan Asdin, anaknya yang ketiga dari empat bersaudara tersebut sudah bekerja cukup lama dengan majikannya. Selama ini hubungan mereka cukup baik, bahkan Jonathan sudah pernah pulang ke Kota Pematangsiantar, saat itu semua hak-haknya diterima dengan baik. “Majikan yang dibunuh ini majikan yang kedua (atau menantu dari majikan pertama). Kalau majikan pertamanya cukup baik, tapi sudah meninggal. Baru digantikan menantunya (majikan yang dibunuh Jonathan),” kata Asdin.

Bahkan Jonathan dipercaya banyak hal, termasuk mengantar jemput dan tidur sama dengan anak dari majikan yang dibunuhnya. Persoalan muncul saat Jonathan tidak bisa membendung emosinya, karena majikannya melemparkan sebagian upahnya ke bagian wajah Jonathan. “Mungkin karena kesalnya, Jonathan spontan mengambil parang daging yang tidak jauh dari mereka,” jelasnya.

Sebagai orangtua, menerima kenyataan pahit ini tidaklah mudah apalagi Jonathan Sitohang memiliki dua anak, satu perempuan berusia 8 tahun dan satu anak laki-laki berusia 2,5 tahun. “Harapan kami kepada bapak Jokowi, kepada DPR RI dan kepada Marga Sihotang se Indonesia, bantulah kami agar hukuman anak kami bisa ringan,” kata Asdin dengan meneteskan air mata sembari memegang salinan surat permohonan yang dikirimkan kepada presiden.

Sebagaimana diketahui, Jonathan Sihotang (32) terancam hukuman mati karena dinilai terbukti membunuh majikannya, Sia Seok Nee (44) di Kilang Toto Food Trading, Kampung Selamat, Tasek Gelugor, 19 Desember 2018 silam, karena sikap majikannya tidak memberikan gaji untuk hitungan satu tahun bekerja. Mengetahui itu, Jhonatan bermohon kepada majikannya agar seluruh gajinya diberikan karena Jhonatan sudah punya rencana untuk balik ke Pematangsiantar untuk melihat dua orang buah hatinya.

Sayangnya, majikan tersebut justru melemparkan uang ke wajah Jhonatan. Perlakuan itupun tidak dapat diterima, Jhonatan naik pintam dan mengambil parang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa berpikir panjang Jhonatan menghantam tubuh majikannya. (Man)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *