by

Kementan Kaji Ganja Jadi Tanaman ‘Legal’

Jakarta, Kabarnas.com – Kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) menjadikan ganja untuk dibudidayakan sebagai tanaman obat dibawah binaan Kementerian Pertanian menjadi riuh diperbincangkan. Banyak pemahaman bahwa ganja menjadi tanaman legal. Namun belum lama dikeluarkan peraturan Kepmentan Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020, itu sudah dicabut kembali untuk sementara waktu.

Terkait soal ganja sebagai komoditas binaan pertanian ini, Tommy Nugraha selaku Direktur Sayuran dan Tanaman Obat menjelaskan, tanaman ganja adalah jenis tanaman psikotropika. Secara prinsip sebagaimana yang dimaksud pada Kepmentan 104/2020, izin budidaya pada tanaman diberikan namun dengan memperhatikan ketentuan dalam perundang-undangan. “Penyalahgunaan tanaman menjadi bagian tersendiri dan tentunya ada pengaturannya tersendiri,” terangnya, Sabtu (29/8).

Ia menyebut, dalam Pasal 67 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, disebutkan budidaya jenis tanaman hortikultura yang merugikan kesehatan masyarakat dapat dilakukan untuk pelayanan kesehatan dan atau ilmu pengetahuan kecuali ditentukan oleh undang-undang. Dan jika menilik Permenkes Nomor 44 Tahun 2019 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika, tanaman ganja masuk ke dalam jenis narkotika golongan I.

Tommy menyebut, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo konsisten dan berkomitmen mendukung pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu, ia mengungkapkan Kepmentan 104/2020 sementara akan dicabut dan akan direvisi dengan terlebih dahulu berkoordinasi kepada stakeholder terkait seperti BNN, Kemenkes, LIPI. “Kepmentan 104/2020 tersebut sementara akan dicabut untuk dikaji kembali,” jelasnya.

Mentan tentu punya komitmen untuk pemberantasan narkoba. Menurutnya, Kementan juga tetap membangun komunikasi kepada instansi lain berkenaan pengalihan wilayah penanaman ganja secara ilegal ke pertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan.

Ganja yang masuk dalam jenis ini adalah semua tanaman genus cannabis dan semua bagian dari tanaman, termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan tanaman ganja atau bagian tanaman ganja, termasuk damar ganja dan hasis. Dalam Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

Dalam jumlah terbatas, narkotika golongan I dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. (Man)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *