by

Tersangka Penganiayaan Masih Bebas, Tindakan Polres Simalungun Dinilai Janggal

Simalungun, Kabarnas.com – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun menyesalkan sikap Kapolres Simalungun, AKBP Agus Waluyo yang tidak melakukan penahanan terhadap  Humas PT. Toba Pulp Lestari (PT. TPL), Bahara Sibuea tersangka dalam perkara penganiyaan yang dilaporkan  masyarakat adat desa Sihaporas, Thomson Ambarita, nomor STPL/84/IX/2019, tanggal 17 September 2019.

Ketua GMKI Cabang Pematangsiantar-Simalungun, May Luther Dewanto Sinaga menilai sikap  Polres Simalungun cukup aneh dalam menangani kasus tersebut. Laporan ini sudah berjalan 1 tahun dan penetapan tersangka sudah berjalan sekitar 3 bulan tetapi tak kunjung ada penahanan. Atas kejanggalan itu, GMKI berharap Polres Simalungun menanganiyan dengan serius sehingga Bahara segera diadili.

“Status Bahara saat ini sudah sebagai tersangka, tapi hingga kita dia belum juga ditangkap dan ditahan. Masih bebas. Jadi kami meminta pihak kepolisian Simalungun agar bekerja secara professional,” kata Luther, Rabu (26/8)

Kabid Aksi dan Pelayanan GMKI Pematangsiantar-Simalungun, Andre Sinaga menambahkan, dalam perkara ini Polres Simalungun diduga kuat bekerja dengan timpang dalam penegakan hukum. Lantas ia bertanya, kenapa saat pihak PT. TPL melaporkan warga Sihaporan, Polres Simalungun bergerak cepat, menetapkan dua warga jadi tersangka. Mereka sudah selesai menjalankan kurungan badan sesuai putusan pengadilan.

Namun, dalam perkara yang sama juga warga melaporkan Humas PT TPL, tetapi proses hukumnya sangat lambat. Terkesan ditutup-tutupi. “Kenapa Bahara Sibuea yang saat ini berstatus tersangka belum juga ditahan? Ini menjadi kecurigaan kami terhadap Polres Simalungun saat ini,” kata Andre sembari menegaskan bahwa GMKI bersama organisasi lain seperti PMKRI, GMNI, Sapma PP, AMAN, dan BAKUMSU yang tergabung tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Adat (AMMA) akan mengawal dan mendampingi warga dalam perkara ini.

Perlu diketahui, kasus yang menjerat Bahara Sibuea ini bermula saat oknum Humas PT.TPL tersebut, diduga melakukan kekerasan terhadap  masyarakat adat Sihaporas,tangga 16 September 2019 lalu. Kala itu sejumlah masyarakat adat Sihaporas sedang melakukan pengelolaan lahan adatnya, dan secara tiba-tiba sejumlah pengawai PT.TPL termasuk Bahara Sibuea datang ke lokasi dan melarang masyarakat mengelola lahan tersebut karena diklaim sebagai lahan konsesi PT.TPL.

Pertikaian antara masyarakat dan pihak PT. TPL pun tidak terelak. Dalam hal ini kedua pihak melapor ke Polres Simalungun. Dari laporan PT.TPL, dua warga dinyatakan tersangka dan sudah selesai melalui hukuman penjara. Sementara dari hasil laporan warga, Polres Simalungun belum menahan Bahara Sibuea selaku terlapor. (Man)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *