by

Cegah ‘Hilangnya’ Budaya Simalungun, DPRD : Perlu Perda

Pematangsiantar, Kabarnas.com – Pada tahun 2019, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pematangsiantar telah menghentikan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Cagar Budaya menjadi Perda. Namun tahun ini akan kembali dilanjutkan untuk dirampungkan karena dinilai sangat penting. Hal ini disampaikan Astronout Nainggolan selaku ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Pematangsiantar, Sabtu (22/8).

Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan, budaya dan bangunan-bangunan bersejarah di kota ini tidak boleh dibiarkan begitu. “Perda cagar budaya ini sangat penting. Justru menurut saya terlambat di Siantar. Perda ini perlu supaya jelas budaya apa yang akan kita tonjolkan di Siantar dan juga pelestariannya,” jelasnya.

Astronout Nainggolan menjelaskan juga perlunya mengungatkan keberadaan adat istiadat dan budaya Simalungun sehingga dalam setiap acara kenegaraan jelas mana yang akan ditampilkan. “Seperti yang pernah saya ketahui dari media, tarian penyambutan tamu dalam satu acara di Siantar sempat digantikan dengan tarian dari daerah lain. Hal seperti ini tidak boleh lagi terjadi. Makanya perlu perda,” katanya.

Sebagaimana diketahui, kata Astronout Nainggolan, peninggalan sejarah juga sangat banyak di kota ini tetapi hanya sebagian orang yang tahu. Termasuk mengenai sejarah Sangnaualuh. “Kemudian, kita tahu Siantar merupakan kota tua dan ada beberapa bangunan yang harus dilestarikan sebagai cagar budaya, terutama rumah Sangnaualuh Damanik. Kalau kita ingin menghargai sejarah, menghargai raja, menurut saya itu harus dilestarikan dengan baik. Lewat apa? Ya lewat Perda,” terangnya.

Keberadaan perda cagar budaya diyakini bisa menambah penghasilan kas Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar. “Setelah ini di perda kan, ada dana transfer yang bisa kita dapatkan untuk bangunan-bangunan atau hal lain dalam cagar budaya yang kita lindungi. Itu juga gunanya,” ucapnya sembari mengajak semua pihak harus bersepakat bahwa Kota Pematangsiantar adalah wilayah kekayaan suku Simalungun yang harus dilestarikan.

Menurutnya, ranperda cagar budaya dapat lebih cepat dituntuaskan jadi perda karena tahun-tahun sebelumnya Bapemperda telah melaksanakan tahapan yang berkaitan dengan itu. Contohnya naska akademik telah rampung. “Tidak bisa kembali dari awal. Jadi kita di sini tinggal melakukan penyempurnaan subtasi dan materinya untuk menjadi perda cakar budaya,” tutupnya. (Man)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *