by

Istri dan 2 Anak Buta Sang Ayah Butuh Bantuan Dermawan

Simalungun, Kabarnas.com – Perjuangan Ramot Silalahi, seorang suami yang harus merawat istri dan dua anaknya yang buta belum berhenti agar orang yang ia sayangi dapat pulih kembali. Ayah berusia 48 tahun ini mengharapkan uluran tangan orang lain sehingg kelak ketiganya bisa dibawah ke rumah sakit yang lebih baik. Harapan ini disampaikan Ramot Silalahi kepada Kabarnas.com saat dijumpai di rumahnya di Simpang Rel Muntik, Nagori Bosar Galugur, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Rabu (19/8) siang hari.

Ramot bercerita, awalnya istrinya Rismawati (47)  rabun sejak Juni 2014. Karena itu, ia dan istrinya membeli kaca mata di Kota Pematangsiantar. Lantaran tidak ada perubahan, November 2014 mereka memutuskan untuk berobat ke salah satu rumah sakit yang ada di Jalan Iskandar Mudah, Kota  Medan. Namun tidak ada hasil, Ramot pun membawa istrinya berobat secara tradisional. Hasilnya sama.

Mirisnya, September 2018 anaknya bernama Parluhutan Silalahi (25), turut rabun dan upaya untuk mencegah kebutaan pun dilakukan. Hampir satu tahun mengandalkan dokter hasilnya sama dengan istrinya. Berselang sekitar dua tahun kemudian, Hotma Verawati Silalahi (24) juga menderita yang sama, tepatnya Maret 2020.

Mirisnya, di saat dalam keadaan seperti itu, hubungan putrinya Hotma Verawati Silalahi dengan suami yang dinikahinya di tahun 2019, malah tidak harmonis. Padahal Hotma sedang mengandung anak pertama. Setelah melahirkan pun di bulan April 2020, hubungan mereka bukannya membaik.

Pada hari selanjutnya, Hotma menghubungi ayahnya Ramot, meminta dijemput bersama cucunya. Ramot tak banyak pikir langsung mendatangi kediaman Hotma yang tidak begitu jauh dari Simpang Rel Muntik karena putrinya tersebut sempat mengaku akan bunuh diri jika tidak dijemput. Setibanya di sana Ramot hanya bisa melihat putrinya menangis sambil menggendong cucunya. “Sampai sekarang menantu Ramot pun belum pernah melihat anak dan istrinya,” kata Ramot.

Ramot mengaku sempat putus asah hingga seolah tidak percaya dengan Tuhan karena beban berat ini sulit dipahami logikanya. Apalagi uang telah habis, bahkan warisan keluarga turut tergadaikan. Namun di balik kesulitan itu keluarga tetap berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan pemulihan penglihatan.

Kini, Ramot harus berjuang merawat semuanya. Sementara mata pencaharian utamanya dari kedai kopi sekaligus kedai tuak.Untuk selebihnya, ia dibantu oleh anak sulungnya Lamhot Silalahi (27). Anaknya ini sehat, namun Ramot tetap memantaunya agar tetap menjaga pola maka sehat.  Di balik semua beban itu, Ramot sendiri masih berusaha berjuang untuk membawa istri dan anaknya tersebut.

“Saya hanya berharap bantuan agar bisa membawa istri dan anak saya ini berobat ke Malaysia atau ke rumah sakit yang benar-benar bisa memulihkan penglihatan ketiganya,” terangnya dengan menambahkan bahwa belakangan pihak Pemkab Simalungun sudah ada yang menghubunginya. Harapannya adalah bagaimana semua apa yang dipikirkan saat ini dapat terealisasi sehingga ketiga orang yang disayanginya dapat beraktivitas dengan baik seperti semula.

Dalam kesempatan ini, Ramot mengaku sudah konsultasi dengan dokter yang menangani selama ini. Bahkan Ramot pernah bertanya kepada dokter apakah masalah ini dialami istri dan anaknya berkaitan dengan genetic dari orangtua. Sebab, mertua perempuan Ramot diketahui juga mengalami gangguan penglihatan di usia 50 tahun. Namun dari keterangan dokter, kecil kemungkinan karena genetic. Sedangkan dari diagnose dokter, ketiganya mengalami sakit glaukoma. (Man)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *