by

Persoalan Internal HKBP Cibinong, Doakan Jangan Hujat

Pematangsiantar, Kabarnas.com – Permasalahan di internal HKBP Cibonong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang berakhir ricuh, Minggu (16/8/2020) menarik perhatian banyak orang khususnya jemaat dari HKBP diberbagai belahan daerah. Banyak pendapat muncul atas masalah tersebut, tidak sedikit diantaranya memberikan pandangan negative. Mirisnya, muncul banyak dari kalangan satu iman malah menjatuhkan.

Namun berbeda dengan Januari Sihotang. Menurutnya, permasalahan seperti ini semestinya bukan dijadikan bahan untuk saling menjatuhkan, tetapi harus dipikirkan bagaimana ke depannya tidak terulang. “Sebagai salah satu jemaat yang bertumbuh di HKBP dan saat ini tetap setia di HKBP, sesungguhnya saya merasa malu dengan kejadian di HKBP Cibinong,” katanya, Rabu (19/8).

Namun, kata Januari Sihotang, hal yang paling sedih adalah ketika ada saudara-saudara seiman yang kemungkinan bukan jemaat HKBP justru memperkeruh suasana dengan ungkapan sindiran bahwa HKBP itu “habis kas buat pesta atau habis kas buat kenyang pendeta. “Jika memang bapak/ibu adalah warga jemaat non HKBP yang sudah memiliki kadar keimanan yang mumpuni dan merasa lebih hebat dari HKBP, kami mohon bantulah dengan doa,” ucapnya.

Doakan biar kejadian di HKBP Cibinong tidak terjadi lagi. Jangan justru mengejek. Bahkan ada yang sepertinya senang. “Kita mengikut Kristus bukan untuk bersaing. Bukan mau mengatakan gerejakulah yang terbaik, gerejamu jelek, dan segala macam. Namun, alangkah indahnya jika kita masing-masing sama-sama bertumbuh walaupun beda denominasi gereja,” ungkapnya.

Jika masih ungkapan itu yang keluar dari mulut seorang beragama Nasrani, kata Januari, lalu apa bedanya dengan jemaat yang bertikai itu? Jemat yang selalu merasa lebih hebat dan lebih benar? Setiap gereja memiliki tantangan tersendiri pada masanya. “Semoga dengan berbagai permasalahan yang ada akan menguatkan iman para jemaat untuk mengikut Kristus. Sejak dulu, gereja sudah menghadapi persoalan karena harta, tahta dan jabatan. Bahkan sejak zaman gereja mula-mula,” terangnya.

“Mungkin, beberapa di antara kita juga sudah tahu apa yang menjadi latar belakang munculnya gereja protestan. Bagaimana pada masa itu, gereja identik dengan kekuasaan yang justru membuat gereja kehilangan arah sesuai ajaran Kristus. Kasus ini juga jangan dijadikan generalisasi bahwa semua HKBP seperti itu,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan soal bahayanya media sosial (Medsos),  mudah dijadikan media untuk menggiring opini. “Dari 5000 gereja HKBP, mungkin ada 10 atau 20 yang bermasalah. Dan tanggung jawab kitalah untuk mendoakannya. Terakhir, hati-hatilah menyindir di medsos. Apalagi kalau langsung menyebut merk atau nama. UU ITE kita ini kejam dan bisa saja dijadikan oknum tertentu untuk menjerat lidah dan jari kita yang tergelincir. Songon nidok ni natua-tua, atik dia sial ni daging,” tutupnya. (Man)

NB: Tulisan ini sudah terbit dalam facebook Januari Sihotang)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *