by

Trauma, 7 Anak Duda Pembunuhan di Samosir Butuh Perhatian KPAI

Samosir, Kabarnas.com – Duka mendalam yang dirasakan 7  anak pasca ayah mereka dibunuh, mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya Dwi Ngai Sinaga dari tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru ( PPTSB) se-dunia. Ia salah satu kuasa hukum keluarga korban.

Sebagaimana diketahui, duda tersebut adalah Rianto Simbolon. Ia ditemukan tergeletak berlumuran darah di pinggir jalan menuju Ronggurnihuta, tepatnya Desa Pardomuan I, Kecamatan Pangururan, Minggu (9/8) sekitar pukul 3.00 WIB. Korban berusia 41 tahun itu meninggalkan 4 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Anak pertama bernama Menanti Simbolon berusia 17 tahun, duduk di kelas XII SMA Negeri I Kecamatan Ronggur Nihuta.

Sementara anak kedua, ketiga dan keempat masih duduk di kelas I, II dan III SMP Ronggur Nihuta. Kemudian anak kelima dan keenam ada di Panti Asuhan Sitinoraiti, satu diantara duduk di kelas 4 SD dan anaknya paling kecil masih berusia 5 tahun. Kondisi ekonomi yang begitu sulit menjadi alasan bagi almarhun semasa hidupnya menitipkan dua anaknya di panti asuhan. Sebab ia hanya mengandalkan penghasilan dari bertani, sedangkan ibu dari anak-anak tersebut sudah meninggal sekitar satu tahun silam.

Dalam peristiwa ini, Dwi melihat bahwa anak-anak korban mengalami trauma psikologi karena dengan sekejab mereka kehilangan sosok yang selama menjadi satu-satunya harapan untuk meraih cita-cita. Saat ini anak-anak korban hanya berdoa dan berharap perhatian atau bantuan orang lain. Namun satu hal yang tidak bisa dibaikan adalah bagimana memulihkan rasa traumatik semua anak korban. Butuh pendampingan serius.

Untuk menjaga psikologis anak-anak korban, Dwi berharap agar lembaga-lembaga negara terutama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dapat memberikan perlindungan. “Dalam faktanya memang hanya satu orang yang dibunuh oleh para pelaku. Akan tetapi ada tujuh orang anak yang psikologisnya dan harapannya telah direnggut oleh para pelaku,” ucapnya, Senin (17/8).

Anak-anak tersebut, kata Dwi, seyogianya masih merasakan kasih sayang orangtua. Namun semuanya telah hilang. Untuk itulah, Dwi sangat berharap agar pemerintah dalam hal ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia turut andil besar memberikan perhatian kepada anak korban.

Diuraikan Dwi, peristiwa ini bermula, Rabu (5/8/2020). Ketika itu timbul percekcokan diantara Para pelaku dan korban. Salah seorang pelaku bahkan telah mengeluarkan sebilah pisau. Akan tetapi niat pelaku tidak terlampiaskan. Esok harinya kembali timbul percekcokan kedai tuak yang ada di daerah Ronggur Nihuta. Lagi-lagi niat para pelaku tetap tidak terlampiaskan sehingga muncul kesepakatan para tersangka untuk melakukan perencanaan.

Seluruh tersangka berkumpul di rumah salah seorang tersangka, yaitu Justianus Simbolon. Dia diketahui yang mengatur dan memberikan tugas kepada tersangka lainnya, yaitu Bilhot Simbolon (27), Tahan Simbolon (42), Parlin Sinurat (42), PS dan ED. Empat dari enam tersangka sudah ditangkap dan dua lagi dalam pengejaran polisi.

Kapolres Samosir AKBP Muhammad Saleh sendiri mengatakan bahwa otak utama dari pembunuhan terhadap Rianto Simbolon adalah seorang kakek berusia 60 tahun. Ia tidak mempunyai kaki kiri. Terungkpa juga bahwa Justianus Simbolon, tega merencanakan semua ini dilatarbelakangi masa lalu, dimana kakek korban disebut-sebut telah membunuh kakek tersangka. Namun motif utamanya adalah persoalan warisan tanah. Lalu, semua rencana dibahas matang dan sesuai peran yang telah disepakat. (Man)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *