by

Duda Dibunuh di Samosir Anak Minta Tersangka Dihukum Berat

Samosir, Kabarnas.com – Anak-anak dari seorang duda yang dibunuh di Samosir meminta kepada penegak hukum agar para tersangka dihukum berat. Pernyataan itu disampaikan melalui Dwi Ngai Sinaga selaku penasehat hukum keluarga almarhum Rianto Simbolon, warga Desa Sijambur, Kecamatan Ronggur Nihuta, Kabupaten Samosir. Dwi mengakui bahwa kematian pria berusia 41 tersebut menimbulkan dampak besar kepada ke 7 anaknya, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi menimbulkan trauma psikologi.

Kata Dwi, luka ke 7 anak itu sangat mendalam karena satu tahun yang lalu ibu mereka baru meninggal sehingga sekarang ini anak-anak tersebut kehilangan sosok yang dapat menjagai. Sementara usia anak sulung bernama Menanti Simbolon masih 17 tahun dan masih duduk di bangku kel XI SMA. Sedangkan anak bungsu korban berumur 5 tahun.

Tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru ( PPTSB) se-dunia tersebut mengatakan, sejauh ini jajaran Polres Samosir telah berhasil menangkap 4 dari 6 tersangka. Namun keluarga sangat berharap kedua tersangka segera ditangkap dan polisi mengusut perkara ini sehingga dapat mengungkap siapa saja yang terlibat. Keluarga juga berharap agar Polda Sumut turut campur tangan sehingga membentuk tim pemburu keduanya.

“Kami atas nama keluarga almarhum mendesak Bapak Kapoldasu Irjen Pol Martuani Sormin Siregar agar membentuk tim selain melakukan pengawasan terhadap personil Polres Samosir agar bisa memburu pelaku lainnya secara tegas ,” ucap Dwi dengan menambahkan bahwa semua tersangka layak diganjar dengan pasal 340 KUHPidana karena pembunuhan direncanakan secara matang.

Pada kesempatan ini, Dwi Sinaga berharap kepada seluruh masyarakat untuk turut serta mengawal proses hukum hingga para pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya. Aparat penegak hukum diharapkan mampu menciptakan hukum dengan seadil-adilnya, tanpa ada intervensi dari pihak manapun yang berkepentingan.

“Mari kita bersama masyarakat mengawal seluruh prose perjalan kasus ini hingga masuk ke tahap persidangan. Termasuk para jajaran para penegak hukum di Kejaksaan bisa jeli dan teliti serta memberikan vonis yang tegas kepada para pelaku. Kami berharap para penegak hukum ini agar turut serta dapat diawasi oleh Komisi Kejaksaan Republik Indonesia ,” harap Direktur LBH IPK Sumut ini.

Sebagaimana diketahui, Rianto Simbolon ditemukan tergeletak berlumuran darah di pinggir jalan menuju Ronggurnihuta, tepatnya Desa Pardomuan I, Kecamatan Pangururan, Minggu (9/8) sekitar pukul 3.00 WIB. Korban meninggalkan 4 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Anak pertama duduk di kelas XII SMA Negeri I Kecamatan Ronggur Nihuta, anak kedua dan ketiga dan keempat masih duduk di kelas I, II dan III SMP Ronggur Nihuta, anak kelima dan ke enam ada di Panti Asuhan Sitinoraiti, satu duduk di kelas 4 SD dan anaknya paling kecil masih berusia 5 tahun.

Kapolres Samosir AKBP Muhammad Saleh sendiri telah mengungkap otak pelaku utama pembunuhan terhadap Rianto Simbolon adalah seorang kakek berusia 60 tahun. Ia tidak mempunyai kaki kiri. Tersangka tersebut bernama Justianus Simbolon, masih memiliki hubungan keluarga dekat dengan korban. Dia yang mengatur perencanaan pembunuhan dan membagi peran kepada 5 tersangka lainnya, yakni Bilhot Simbolon (27), Tahan Simbolon (42), Parlin Sinurat (42). Kemudian PS dan ED di rumahnya sendiri.

Sementara keterangan dari tersangka Justianus Simbolon, terungkap bahwa pembunuhan dilatarbelakangi masa lalu, dimana kakek korban disebut-sebut telah membunuh kakek tersangka. Namun motif utamanya adalah persoalan warisan tanah. Lalu, semua rencana dibahas matang dan sesuai peran yang telah disepakati. (Man)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *