by

Bupati Samosir Berniat Asuh 7 Anak Duda Korban Pembunuhan

Samosir, Kabarnas.com – Kematian Rianto Simbolon yang dibunuh secara sadis turut menjadi duga bagi Kabupaten Samosir. Apalagi, semasa hidupnya korban berstatus duda dengan 7 orang anak. Sebagai bentuk rasa empati, Bupati Samosir Rapidin Simbolon mendatangi rumah duka di Desa Sijambur, Kecamatan Ronggur Nihuta, Selasa (11/8).

Kepada keluarga yang ditinggalkan, bupati berharap agar keluarga tabah dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Rapidin Simbolon berjanji akan memberikan beasiswa kepada ke-7 orang anak yang ditinggalkan almarhum, dan jika keluarga bersedia ke tujuh anak tersebut akan diasuh oleh Rapidin Simbolon.

Rianto Simbolon merupakan korban pembunuhan yang ditemukan di sekitaran Jalan Ronggur Nihuta pada Minggu (9/8) sekitar pukul 3.00 WIB, dini hari. Dan hingga saat ini kasusnya masih ditangani oleh Polres Samosir. Korban meninggalkan 4 anak laki-laki dan 3 perempuan.

Anak pertama bernama Menanti Simbolon berusia 17 tahun dan masih duduk di kelas XII SMA Negeri I Kecamatan Ronggur Nihuta, anak kedua dan ketiga dan keempat masih duduk di kelas I, II dan III SMP Ronggur Nihuta, anak kelima dan ke enam ada di Panti Asuhan Sitinoraiti, satu duduk di kelas 4 SD dan anaknya paling kecil masih berusia 5 tahun.

Sebelumnya, Menanti Simbolon bersama adik-adiknya menangis histeris karena rasa pilu yang harus dihadapi atas kepergian ayahnya untuk selamanya. Pria berusia 41 tahun itu dibunuh sekitar 7 orang tersangka. Akibat kekejaman para tersangka yang masih tetangga dengan korban, bahkan tiga diantaranya masih satu marga dan tergolong keluarga dekat, membuat Menanti Simbolon bersama adiknya-adiknya kehilangan segalanya.

Sembari melihat tubuh ayahnya dalam peti jenazah, Menanti Simbolon mengaku, dulu ada sosok ayah yang melindungi mereka dari ragam perjalanan hidup. Ia tidak menyangka, beban berat ini diizinkan Tuhan untuk mereka hadapi, apalagi rasa duka atas kematian ibunya di tahun 2019 masih berbekas di batinnya.

Seluruh anak korban harus menjalani kehidupan sehari-hari tanpa tahu siapa yang akan menafkahi. Sesekali Menanti melihat jenazah ayahnya, sekaligus mengutarakan bagaimana nasib mereka ke depan. Sebab, semasa hidup ayahnya, kehidupan mereka juga terbilang susah sehingga menjadi alasan untuk menitipkan dua anak korban di Panti Asuhan. (Man)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *