by

Hefriansyah Kurang Beritikad ke Wartawan, DPRD: Mungkin lagi stres dia

Pematangsiantar, Kabarnas.com – Anggota DPRD Kota Pematangsiantar menyesalkan sikap dan pernyataan Wali Kota Pematangsiantar, Hefriansyah kepada sejumlah wartawan ketika dikonfirmasi mengenai kepergiannya ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN). Wali kota harus menjadi teladan dan sikapnya kepada wartawan bukan perilaku sebagai bangsawan.

Ferri SP Sinamo, salah satu angggota DPRD Pematangsiantar dari Fraksi PDI Perjuangan, mengatakan bahwa idealnya Hefriansyah menggambar pribadi yang dewasa sebagai kepala daerah. “Dia (Hefriansyah) tidak menunjukkan kedewasaan sebagai bangsawan. Tidak mempunyai nilai-nilai kebangsaan. Tidak punya etika,” jelasnya.

Ia menambahkan, mestinya wali kota dapat memahami tugas sebagai wartawan, yaitu mengumpulkan data dan mengkonfirmasikannya kepada setiap orang yang terkait atau berwenang, termasuk soal issu atau informasi apapun itu. “Makanya, ketika ada informasi dan dikonfirmasi oleh wartawan, seharusnya dijawab dengan sopan. Dijawab sesuai dengan jabatan. Jangan kayak preman,” ucapnya.

Dijelaskan, setelah Yudikatif, Eksekutif dan  Legislatif, wartawan bagian dari pilar pembangunan bangsa. Lewat Informasi memberi dampak luar biasa kepada masyarakat. “Sehebat apapun kinerja kita aparatur Negara, pekerjaan kita itu tidak akan nampak, tidak diketahui oleh masyarakat.,” terangnya sembari menekankan, wali kota semestinya meluruskan informasi jika ada berita yang keliru atau kurang tepat.

“Janganlah pakai bahasa kurang tepat, pakai otak segala macam. Tidak sepantasnya wali kota mengucapkan seperti itu. Dia pejabat paling tinggi di daerah Kota Pematangsiantar maka dia harus memberikan teladan, mulai dari cara berbicara, berpakaian dan lainnya. Dia harus menjadi panutan,” ucapnya.

Sebagai pribadi yang pernah puluhan tahun menggeluti profesi jurnalis, Ferri SP Sinamo mengaku tersinggung dengan sikap dan pernyataan walikota. “Keberatan kita dia seperti itu. Dia harus menarik bahasanya itu. Sampai hari ini saya sebagai anggota PWI non aktif, jelas keberatan. Tidak begitu bahasa seorang pejabat,” ucapnya.

Rasa kecewa juga diutarakan Baren Alijoyo Purba. Sebagai pejabat, bekerja berdampingan dengan wartawan adalah sangat penting. “Saya mulai pegawai biasa dari Golongan IIA sampai IVB, banyak liku-likunya tetapi tidak pernah seperti itu. Apalagi sampai ngomong seperti itu. Justru karena mempunyai kemampuanlah wartawan itu bekerja,” terangnya.

Baren menuturkan, wartawan dilindungi Undang-undang dalam bekerja dan jurnalis juga punyak hak dan kewenangan untuk konfirmasi dalam bentuk apapun. “Wartawan itu dilindungi undang-undangn, kalau salah yang ada mekanisme. Mungkin lagi stres dia (wali kota),” katanya dengan kesal.

Sebelumnya, ketika dikonfirmasi tentang hasil pertemuan wali kota dengan KASN, dengan ketus Hefriansyah menjawab wartawan. Bahkan terlihat berdebat. “Siapa yang bilang,  kalian tanya samaku.  Makanya cari informasi itu yang akurat jangan mengada-ada. Pake ini” katanya, Selasa (11/8), sembari ia menunjuk jidatnya menggunakan jari tangan kanan.

Sembari berjalan mau masuk ke dalam mobil dari arah belakang, Hefriansyah sempat menyampaikan sejumlah kalimat. “Makanya informasinya jelas. Coba konfirmasi ke KASN. Kata Kusen itu apa, makanya kau cari pake otak,” ucapnya dengan nada seperti tidak bersahabat. (Man)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *