by

Cabut Kuku Kaki Sopir, Oknum DPRD Labusel Malah Dibela Warga

Labusel, Kabarnas.com – Upaya Polres Labuhanbatu untuk melakukan penahanan anggota DPRD Labuhanbatu Selatan (Labusel) Imam Firmadi hingga saat ini belum berhasil lantaran warga yang ada di Desa Pinang Damai, Kecamatan Torgamba turun menghalangi petugas. Hal ini dibenarkan Kasubbag Humas Polres Labuhanbatu, AKP AKP Murniati Rambe, Jumat (7/8).

Akibat sikap warga tersebut, kata Murniati Rambe, perkembangan status kepada tiga orang temannya yang diduga ikut melakukan penganiayaan pun tidak bisa berjalan. Menurutnya, langkah pertama harus terlebih dahulu menangkap politisi PDI Perjuangan tersebut karena diduga sebagai aktor utama. “Kalau sudah tertangkap terduga utamanya kan akan dikembangkan lagi,” jelasnya singkat. 

Mengenai penolakan itu, sejumlah warga Desa Pinang Damai, Kecamatan Torgamba membuat surat pernyataan bersama. Surat itu tentang sikap warga tehadap perilaku Muh Jepriyono dan dukungan pengungkapan fakta kebenaran hukum atas penganiayaan yang dialami oleh Muh Jepriyono. Surat pernyataan itu ditandatangani oleh Tusiran, Salman, Kamsi, Warsito Yacob, Ramahul Mahulaf, Sugeng Riyadi dan Ruslan.

Menariknya, warga justru menuding balik bahwa Muh Jepriyono selama ini kerap meresahkan.“Kami selaku perwakilan masyarakat Desa Pinang Damai sesungguhnya selalu merasa resah dengan perilaku Muh Jepriyono yang kerap kali (jika ada kesempatan atau saat diantara masyarakat lengah menjaga harta benda) melakukan pencurian. Perilaku pencurian itu tidak hanya terjadi satu dua kali, namun telah terjadi beberapa kali. Mengapa tidak dilaporkan kepada polisi? Karena kami berpikir cukup dengan diselesaikan pada tingkatan desa Muh Jepriyono berubah dan jera tidak melakukan pencurian kembali. Faktanya, tetap saja perilaku Muh Jepriyono tidak berubah,” hal ini tertuang dalam surat pernyataan warga.

Terkait dengan tindakan pencurian yang dilakukan Mum Jepriyono pada tanggal 28 Juni 2020 di Desa Pinang Damai, untuk itu yang bersangkuta telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Tergamba berdasarkan laporan polisi di bawah No. LP/22/VI/RES18/2020/RES-LBH tanggal 29 Juni. Pertanyaanya mengapa tidak segera dilakukan penahanan badan kepada Muh Jepriyono. Dalam surat itu dijelaskan bahwa tanggal 29 Juni 2020 Jepriyono diamuk massa tidak lain adalah akumulasi dari kekesalan masayarakat. Seingat kami yang bersangkutan juga pernah dipidana.

Menurut warga, Imam Fimadi salah satu perwakilan mereka di DPRD Labusel, dipilih berdasarkan proses demokrasi. Adapun perlakuan beberapa media massa yang mana terkesan tidak obyetik telah melukai hati dan perasaan masyarakat Pinang Damai. Dalam pernyataan ini, Imam Firmadi merupakan bagian dari putra terbaik Desa Pinang Damai dan anak bangsa yang harus dilindungi hak-haknya sekalipun ia masih relatif muda. Seharusnya tidak diperlakukan sewenang-wenang, termasuk akan ditangkap bak teroris atau gembong narkoba

“Bahwa kami mendukung pihak Kepolisian Resor Labuhanbatu untuk mengungkap kebenaran terhadap perkara dimaksud, tidak hanya didasarkan pada keterangan sepihak Muh Jepriyono atau saksi-saksi yang belum tentu benar keterangannya karena kami jelas mengerti apa yang sebenarnya terjadi di balik perkara ini, meskipun tidak harus kami ungkapkan dalam pernyataan sikap ini. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai baik buruknya apa yand dialami oleh Imam Firmadi. Hukum itu seharusnya dijadikan panglima di negeri ini karena hukum itu tidak seperti politik yang dapat berjalan ke kanan dank e iri atau tidak pasti karena didasarkan pada kepetingan,” kata warga dalam surat pernyataan itu lagi. 

Untuk diketahui, Imam melakukan penganiayaan bersama tiga temannya kepada Muhammad Jepriyono. Akibatnya, tubuh pria berusia 21 tahun yang tercatat sebagai warga Desa Pinang Damai, Kecamatan Torgamba, Labusel itu luka lebam dibagian wajah, kepala, dada, punggung, perut. Jari kaki kiri korban pun sakit setelah Iman dan temananya mencabut paksa kukunya. Tindakan itu membuat korban mengalami trauma yang mendalam.

Sesuai dengan cerita dari keluarga, Jepriyono sempat meminja sepeda motor milik Imam Firmadi di siang hari. Namun sampai malah hari Jepriyono yang berprofesi sebagai sopir itu tidak kunjung kembali. Akhirnya, Imam Firmadi menghubungi seluler korban. Kuat dugaan saat itu terjadi perdebatan antara korban dan tersangka, diperkirakan tersangka mendapat informasi kalau roda dua miliknya itu hilang. Korban pun kemudian memberitahukan keberadaan terkini, yaitu di Hotel Melati, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu.

Tiba di sana, tersangka yang turut membawa temannya tidak mendapati sepeda motor dan langsung emosi. Tanpa pikir panjang, tersangka bersama temannya diduga langsung memukuli korban menggunakan benda tumpul secara berulang kali. Sesekali oknum anggota DPRD itu bertanya kepada korban tentang keberadaan sepeda motornya. Jawaban yang tidak memuaskan membuat tersangka naik pitam dan mencabut kuku kelingking kaki kiri korban.

Penganiayaan dan perselisihan peminjaman sepeda motor tanggal 28 Juni 2020. Sekitar dua minggu kemudian, orangtua korban, yakni 9 Juni 2020, Arabaiyah melaporkan kasus ini ke Polres Labuhanbatu dengan STPLP/787/VII/2020/SPKT RES-LBH. Pengaduan terbilang lambat dilakukan lantaran korban belum bisa keluar dari rumah sakit. Atas perkara itu, tersangka disangkakan melanggar KUHP Pasal 353 ayat 2 dengan ancaman pidana penjara paling lama 7 tahun, kemudian Pasal 170 ayat 2 yang dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. (Man)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *