by

Walau Berbahaya Pohon dan Gunung Diandalkan Anak Didik Belajar Daring

Simalungun, Kabarnas.com – Pengaruh sinyal internet yang sulit didapatkan anak didik di Dusun Bapasunsang, desa atau Nagori Siporkas, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, agar dapat mengikuti proses belajar secara daring di tengah pandemik Covid-19, mereka harus mencarinya di pegunungan. Bahkan ada yang rela memanjat pohon.

Lereng gunung yang cukup miring sangat beresiko bagi mereka, khususnya ketika musim hujan. Tanah akan sangat licin dan rentan membuat orang jatuh dan terguling. Gunung yang curam ini ditanami pohot sawit dan beberapa pohon durian. Namun anak didik belajar hanya di empat titik, termasuk satu-satunya pohon durian. Anak didik memanjat dengan ketinggian 3-4 meter. Sebagai pengaman sembari belajar, mereka memanfaatkan cabang-cabang pohon.

Pelajar harus memanjat pohon karena tiga titik lain yang dapat disentuh sinyal juga memiliki jangkauan terbatas. Sehingga dalam satu titik area sinyal hanya dapat menjangkau 4-6 orang. Orang yang memanfaatkan sinyal itu bukan hanya anak laki-laki tetapi turut belajar anak perempuan.

Menurut warga, pemukiman di sana berada di antara penggunungan dengan ketinggian di kawasan ini berada di 800-100 mdpl. Dan mengingat sinyal internet hanya didapatkan di perbukitan itu, anak didik pun harus bertarung dengan waktu karena jarak antara lokasi sinyal ke rumah penduduk kurang lebih 1,5 Km. Mereka biasanya mulai belajar daring sekitar pukul 8.00 WIB hingga dua jam berikutnya.

Kemudian sore harinya terbatas karena keburu gelap atau malam. “Kita tidak bisa berlama-lama juga di sini karena waktunya juga terbatas. Pasti berbeda ketika kami bisa mendapatkan sinyal di rumah,” kata Aldi.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa (Kades) Siporkas Hendra Futra Saragih mengakui soal susahnya sinyal internet di desanya. “Jangankan untuk sinyal internet, untuk menelepon pun susah. Harus kita cari dulu sinyal biar bisa menelepon,” kata Hendra saat ikut mendampingi sejumlah wartawan menuju lokasi anak didik belajar.

Hendra menjelaskan, jika puluhan anak-anak dari Dusun Bapasunsang belajar daring dengan mendaking lereng perbukitan, tentu sulit untuk diawasi orangtua. Tidak tertutup kemungkinan anak-anak malah bermain game sehingga tidak fokus belajar.

“Bagaimana disiplin mereka belajar. Itu juga jadi beban pikiran orangtua,” ucapnya dengan berharap agar persoalan ini kelak bisa diatasi pemerintah apalagi di tengah perkembangan digital. (Man)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *