by

Permohonan Orangtua TKI Terancam Mati di Malaysia Belum Direspon Presiden

Pematangsiantar, Kabarnas.com – Asdin Sihotang bersama istrinya Maslina Nainggolan, selaku orangtua TKI asal Kota Pematangsiantar yang terancam hukuman mati di Malaysia, berharap banyak kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan DPR RI agar bisa membantu keringanan hukuman anak mereka. Harapan itu sudah disampaikan secara tertulis sekitar satu bulan yang lalu. Namun hingga kini surat tersebut belum direspon.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pematangsiantar, Prima Banjarnahor yang selama ini turut memberikan perhatian atas kasus ini, berharap agar  Presiden dan Ketua DPR-RI memberikan kepedulian. Sementara untuk menyelamatkan nyawa anaknya Jhonatan Sihotang, satu-satunya upaya adalah diplomasi politik kedua negara. Prima yakin, jika diplomasi terjadi harapan bagi keluarga TKI tersebut untuk melihat anaknyan hidup masih terbuka lebar. Sepengetahuan Prima, proses penegakkan hukum di Malaysia berbeda dengan Saudi Arabia yang bisa diganti dengan uang kepedulian.

“Kabar terakhir di pengadilan tingkat pertama Pengadilan Negara Malaysia hukuman mati. Kita lagi menunggu putusan akhir. Keluarga memohon agar pemerintah membantu terdakwa agar dihukum ringan melalui diplomasi politik,” terangnya, Rabu (29/7) dengan menambahkan, bahwa sebagai orangtua, menerima kenyataan pahit merupakan cobaan yang paling berat, apalagi Jonathan Sitohang memiliki dua anak, satu perempuan berusia 8 tahun dan satu anak laki-laki berusia 2,5 tahun.

Sebagaimana diketahui, Jonathan Sihotang (32) terancam hukuman mati karena dinilai terbukti membunuh majikannya, Sia Seok Nee (44) di Kilang Toto Food Trading, Kampung Selamat, Tasek Gelugor, 19 Desember 2018 silam, karena sikap majikannya tidak memberikan gaji untuk hitungan satu tahun bekerja. Mengetahui itu, Jhonatan bermohon kepada majikannya agar seluruh gajinya diberikan karena Jhonatan sudah punya rencana untuk balik ke Pematangsiantar untuk melihat dua orang buah hatinya.

Sayangnya, majikan tersebut justru melemparkan uang kepada wajah Jhonatan. Perlakuan itupun tidak dapat diterima, Jhonatan naik pintam dan mengambil parang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa berpikir panjang Jhonatan menghantam tubuh majikannya.

Jonathan bekerja di Malaysia sejak tahun 2015, beberapa tahun kemudian pulang ke Kota Pematangsiantar. Namun pada tahun 2018, Jonathan memilih kembali ke Malaysia dan bekerja kembali kepada majikannya sembari menemui istrinya “Majikan yang dibunuh ini majikan yang kedua (atau menantu dari majikan pertama). Kalau majikan pertamanya cukup baik, tapi sudah meninggal. Baru digantikan menantunya (majikan yang dibunuh Jonathan),” kata Asdin.

Hubungan Jonathan selama ini cukup harmonis, bahkan dari cerita yang ia terima dari anaknya itu, Jonathan dipercaya banyak hal, termasuk mengantar jemput dan tidur sama dengan anak dari majikan yang dibunuhnya. (Man)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *