by

Belajar Secara Online, Orangtua Minta Keringanan Biaya Sekolah

Pematangsiantar, Kabarnas.com – Kepala Unit Pelaksana Tekni (UPT) Pendidikan Pematangsiantar, Darwin Purba mengingatkan agar seluruh kepala SMA sederajat untuk menjalankan surat edaran tentang pelaksanaan proses belajar mengajar di masa pandemik Covid-19. Mengingat daerah Kota Pematangsiantar dan Kabupatena Simalungun masuk zona merah sebaran Covid-19, maka proses belajar tidak diperbolehkan secara tatap muka atau di dalam kelas.

Darwin Purba menegaskan, setiap sekolah setingkat SMA sederajat yang melanggar akan diingatkan dan diberi sanksi. Hanya saja, tidak dijelaskan apa bentuk sanksi yang akan diberikan kepada pihak sekolah. Ia yakin, apa yang sudah disampaikan kepada pihak sekolah akan ditaati karena semua ini demi keselamatan bersama. “Ada 170 SMA sederajat dan sudah menerima surat pemberitahuan tentang proses belajar, system yang digunakan adalah online,” terangnya, Selasa (14/7).

Mengenai kebijakan belajar online ini disambut baik orangtua siswa, dengan harapan, pihak sekolah juga memberikan keringanan biaya. Melda Aritonang, dari orangtua siswa mengatakan , seharusnya di masa pendemik ini biaya pendidikan harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya untuk sekolah-sekolah swasta. “Paling tidak ada pemotongan dari total besaran biaya setiap bulannya. Sebab, biaya online atau beli paket internet juga harus dipikirkan orangtua,” jelasnya.

Orantua siswa menjelaskan, sejak proses belajar mengajar dilakukan secara online tentu telah mengurangi biaya operasional dari pihak sekolah. Artinya, biaya-biaya itu bisa dihitung menjadi salah satu acuan mengurangi beban biaya pendidikan yang ditanggung orangtua. “Misalnya itu dikurangi tentu sangat membantu. Kita banyangkan betapa sulitnya sekarang ini mencari uang. Mungkin ada diantara orangtua siswa ini posisi PHK,” kata Linda Sagala di tempat berbeda.

Sebagaimana diketahui, tahun ajaran baru bagi pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pada bulan Juli 2020. Namun demikian, untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan belajar dari rumah.

Terkait jumlah peserta didik, hingga 15 Juni 2020, terdapat 94 persen peserta didik yang berada di zona kuning, oranye, dan merah dalam 429 kabupaten/kota sehingga mereka harus tetap Belajar dari Rumah. Adapun peserta didik yang saat ini berada di zona hijau hanya berkisar 6 persen.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem menegaskan bahwa proses pengambilan keputusan dimulainya pembelajaran tatap muka bagi satuan pendidikan di kabupaten/kota dalam zona hijau dilakukan secara sangat ketat dengan persyaratan berlapis. Keberadaan satuan pendidikan di zona hijau menjadi syarat pertama dan utama yang wajib dipenuhi bagi satuan pendidikan yang akan melakukan pembelajaran tatap muka.

Persyaratan kedua, adalah jika pemerintah daerah atau Kantor Wilayah/Kantor Kementerian Agama memberi izin. Ketiga, jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Keempat, orang tua/wali murid menyetujui putra/putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. “Jika salah satu dari empat syarat tersebut tidak terpenuhi, peserta didik melanjutkan Belajar dari Rumah secara penuh,” tegas Mendikbud.

Nadiem juga mengajak semua pihak termasuk seluruh kepala daerah, kepala satuan pendidikan, orantua, guru, dan masyarakat bergotong-royong mempersiapkan pembelajaran di tahun ajaran dan tahun akademik baru. (Man)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *