by

HARIMAU SUMATERA PENYANGGA KEHIDUPAN DI SUMATERA

Kabarnas.com, Yogyakarta – Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera, dan merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini. Namun Harimau Sumatera termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered), serta masuk dalam daftar merah spesies terancam sebagaimana dirilis organisasi internasional untuk konservasi sumber daya alam atau  IUCN  ( International Union for Conservation of Nature and Natural Resources, kadang-kadang disebut dengan World Conservation Union).

Harimau Sumatera ini memiliki nama panggilan ‘’Hagara untuk yang jantan dan Hagari untuk yang betina’’. Ciri khas dari Harimau Sumatera adalah belangnya yang lebih tipis daripada subspesies harimau lainya.

Dari seluruh harimau, warna kulit Harimau Sumatera merupakan yang paling gelap mulai dari kuning kemerah-merahan hingga jingga tua kalau jantan, sedangkan untuk Harimau Sumatera betina bulunya akan berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.

Pada dasarnya, Harimau Sumatera memiliki sifat yang dikenal sebagai satwa yang memiliki sifat adaptif karena memiliki fleksibilitas dalam merespons perubahan habitat.

Harimau Sumatera memiliki peranan penting dalam ekosistem sebagai regulator dan indikator biologi. Sebagai regulator biologi, keberadaan populasi Harimau Sumatera menjadi penting sebagai penyeimbang populasi satwa-satwa lain.

Sebagai indikator biologi, keberadaan populasi Harimau Sumatera berfungsi sebagai penanda kehadiran satwa mangsa dan kualitas habitat. Harimau Sumatera menjadi indikator kualitas habitat untuk menjamin fungsi hutan sebagai sistem penyangga kehidupan. Selain sebagai indikator, Harimau Sumatera merupakan spesies payung karena memiliki daerah jelajah yang luas. Dengan kata lain, melindungi Harimau Sumatera dapat melindungi bentang alam serta keanekaragaman hayati di dalamnya.

Faktor penyebab Harimau Sumatera terancam punah

Menurunnya populasi Harimau Sumatera di alam disebabkan oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan yaitu : Menurunnya kualitas dan kuantitas habitat harimau akibat konversi hutan, eksploitasi hutan, penebangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan dan lain-lain. Fragmentasi habitat akibat perencanaan tataguna lahan dan penggunaan lahan hutan kurang memperhatikan aspek-aspek konservasi satwa liar khususnya harimau.

Kematian Harimau Sumatera secara langsung untuk kepentingan ekonomi, estetika, hobby dan mempertahankan diri karena terjadinya konflik antara harimau dengan masyarakat. Penangkapan dan pemindahan Harimau Sumatera dari habitat alam ke lembaga konservasi ex-situ karena adanya konflik.

Menurunnya populasi satwa mangsa harimau karena berpindah tempat maupun diburu oleh masyarakat. Selain itu rendahnya penegakan hukum dan rendahnya unsur-unsur management pengelola konservasi Harimau Sumatera serta kesadaran masyarakat dalam konservasi alam telah mempercepat penurunan populasi Harimau Sumatera di alam.

     Rekomendasi Konservasi

Upaya perlindungan dan pengamanan Harimau Sumatera, satwa mangsa dan habitatnya masih belum dapat menjangkau seluruh wilayah penyebaran Harimau Sumatera.

Masih terjadinya perburuan liar dan pembunuhan Harimau Sumatera, masih lemahnya unsur-unsur managemen pengelola habitat dan populasi  telah menyebabkan upaya konservasi Harimau Sumatera belum efektif.

Belum mantapnya kolaborasi dan kemitraan dalam konservasi Harimau Sumatera telah menyebabkan tujuan konservasi harimau belum optimal, masih rendahnya peranserta, keterlibatan, kesadaran dan dukungan masyarakat dalam konservasi harimau telah menyebabkan pencapaian tujuan konservasi harimau berjalan lambat.

Untuk itu yang dilakukan agar Harimau Sumatera tidak punah dengan cara melakukan konservasi hutan seperti yang terjadi saat ini di Sumatera, tepatnya di Aek Nauli, Kabupaten Simalungun yaitu konservasi hutan untuk tempat habitat Gajah Sumatera tinggal (Aek Nauli Elephant Conservation Camp).

Melakukan strategi comprehensip dalam konservasi Harimau Sumatera perlu dilaksanakan melalui implementasi program dan kegiatan yang efektif, melarang para pemilik sawit menanam sawit ditempat tinggalnya Harimau Sumatera karena itu juga akan menganggu satwa yang ada di dalam hutan tersebut.

Cara yang dilakukan untuk melarang adalah dengan membuat undang-undang mengenai hal tersebut serta melarang perburuan liar yang terjadi di setiap hutan agar hutan tersebut tetap terjaga kelestariannya.

Untuk mendukung upaya pengelolaan Harimau Sumatera di habitat alami, perlu dilakukan penelitian guna menentukan kaitan antara kawasan yang sering dimanfaatkan oleh harimau dan tipetipe habitat hutan maupun keberadaan hewan mangsanya. Hubungan antara keberadaan hewan mangsa dan Harimau Sumatera ini kemungkinan juga dipengaruhi oleh letak topografi habitat hutan dan tingkat kerusakannya

 

KESIMPULAN

Harimau Sumatera adalah salah satu yang termasuk hewan teracam punah yang ada di indonesia. Harimau Sumatera memiliki sifat adaptif dan fleksibilitas di antaranya ditopang karakteristik yang melekat.

Harimau Sumatera memiliki sifat samar dan tersamarkan atau mampu berkamuflase dalam melakukan perburuan. Harimau Sumatera cenderung menghindari pandangan dan interaksi manusia. Hal ini terjadi karena konflik antara manusia dan harimau di tempat dan kondisi yang tak seharusnya menunjukkan bahwa Harimau Sumatera telah mengalami anomali perilaku. Terlebih, semakin banyaknya aktivitas manusia ke wilayah habitat Harimau Sumatera.

Sebagai penyeimbang populasi satwa-satwa lain dan dapat melindungi bentang alam serta keanekaragaman hayati di Sumatera, manusia seharusnya dapat menjaga kelestarian spesies ini agar tidak punah.

Stevi Verayanti Siahaan
Mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW
Yogyakarta

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *