by

Hari ini tim gabungan TNI Polri dijadwalkan evakuasi korban penembakan KKSB di Yigi dan Puncak Gunung Tabo

Kabarnas, Jayapura -Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Joshua Sembiring mengatakan, tim gabungan TNI dan Polri dijadwalkan Rabu (5/12) mengevakuasi korban pembunuhan kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB)di Yigi dan Puncak Gunung Tabo, Kabupaten Nduga.

Evakuasi akan dilakukan dengan mengerahkan pasukan baik dari darat dan udara yang dibantu helikopter, kata Mayjen TNI Sembiring kepada Antara, Rabu pagi yang dihubungi melalui telepon selularnya dari Jayapura.

Panglima Cenderawasih mengatakan, yang akan dievakuasi adalah para pekerja dan karyawan PT.Istaka Karya yang merupakan sebuah BUMN serta anggota TNI yang menjadi korban KKSB.

“Tahap awal pasukan akan mengevakuasi para korban yang berada disekitar Yigi dan gunung Tabo,” kata Mayjen Sembiring yang mengaku saat ini bersama Kapolda Papua Irjen Polisi Martuani Sormin masih berada di Waena seraya menambahkan, belum dapat dipastikan berapa jumlah korban yang akan dievakuasi.

Pasukan saat ini berkejaran dengan waktu mengingat cuaca dilapangan sering kali berubah serta faktor lainnya.

Pada Selasa (4/12) aparat gabungan berhasil mengevakuasi 12 warga sipil dari Mbua, yang empat di antaranya karyawan PT.Istaka Karya yang berhasil melarikan diri dan diamankan di Pos TNI Mbua, yang ikut diserang KKSB hingga mengakibatkan satu anggota TNI meninggal, kata mantan Kasdam III Siliwangi itu.

Data yang dihimpun Antara mengungkapkan karyawan PT.Istaka Karya (Persero) yang tercatat sebanyak 25 orang yang tersebar di kali Yigi, kali Kabunggame dan base camp di Yall.

Dikabarkan KKSB, pada Minggu (2/12) menyerang dan membunuh para pekerja yang sedang menggerjakan pembangunan jembatan, yang awalnya dilaporkan 24 orang meninggal.

Sementara Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua Frits B Ramandey menilai peristiwa pembunuhan massal para pekerja jalan dan jembatan pada sejumlah tempat di Kabupaten Nduga merupakan pelanggaran HAM serius.

“Nah, terkait dengan peristiwa ini, maka tidak ada pilihan lain kecuali tindakan kelompok kriminal bersenjata itu, dengan akibat dari tindakan mereka ini terjadi pelanggaran HAM yang serius,” katanya, di Kota Jayapura, Papua, Selasa.

Menurutnya, bukan disebut pelanggaran HAM berat, karena peristiwa ini dilakukan oleh kelompok sipil bersenjata, sehingga Komnas HAM mengkategorikannya sebagai pelanggaran HAM yang serius, karena ini perbuatan kriminal. “Karena kalau kita melihat kronologisnya, ini ada yang memberikan perintah atau komando kepada mereka. Memerintahkan mereka, menyuruh mereka dan ada yang memimpin pengejaran itu sehingga terjadi tragedi ini di beberapa tempat, paling tidak di tiga tempat sebagaimana laporan sementara,” kata pula.

“Jadi, ada dua unsur yang terpenuhi di sana, pertama mengacu pada UU 39 Tahun 1999 tentang HAM, pasal 1 ayat 6 bahwa perbuatan seseorang atau sekolompok orang yang mengakibatkan hilang nyawa seseorang adalah perbuatan pelanggaran HAM,” katanya pula.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *