by

Presiden Jokowi batalkan remisi bagi I Nyoman Susrama

Kabarnas, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk membatalkan remisi bagi I Nyoman Susrama, terpidana yang dinyatakan terbukti membunuh wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Keputusan pembatalan ini disampaikan Presiden Jokowi usai menghadiri puncak peringatan Hari Pers Nasional 2019 di Surabaya, dan ditegaskan kembali saat menghadiri Festival Terampil 2019 di Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (9/2) siang.

Segera setelah mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat, dari kelompok-kelompok masyakarat, juga dari jurnalis terkait keputusan pemberian remisi kepada I Nyoman Susrama, Presiden mengaku telah memerintahkan kepada Dirjen Lembaga Pemasyarakatan dan Menteri Hukum dan HAM untuk menelaah dan mengkaji mengenai pemberian revisi  itu.

“Hari Jumat (7/2)  sudah diputuskan, sudah saya tanda tangani untuk pembatalan remisi tersebut, ujar Presiden.

Menurut Jokowi, Pembatalan pemberian remisi ini, karena menyangkut rasa keadilan masyarakat. Alasan pencabutannya karena mempertimbangkan rasa keadilan di masyarakat. “Ini menyangkut rasa keadilan di masyarakat,” ujar Jokowi. Bentuk pembatalannya adalah dengan merevisi Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 tentang remisi bagi Susrama yang sempat dikeluarkan sebelumnya.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Denpasar menghukum Nyoman Susrama seumur hidup setelah terbukti dan dinyatakan bersalah membunuh wartawan  Prabangsa pada 2009 lalu.

Majelis Hakim yang mengadili perkara Susrama meyakini motivasi pembunuhan itu adalah terkait tulisan Prabangsa pada 3, 8, dan 9 Desember 2008 di harian Radar Bali , yang menyoroti dugaan korupsi proyek-proyek di Dinas Pendidikan Bangli.

Menanggapi pembatalkan remisi bagi I Nyoman Susrama tersebut, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Abdul Manan mengaku puas dengan keputusan Presiden Joko Widodo.

Manan mengaku senang karena akhirnya Jokowi mendengar aspirasi AJI dan komunitas pers lain yang fokus dalam kasus ini.

“Kami senang dengan perkembangan ini, artinya kan Presiden mendengar aspirasi AJI dan beberapa komunitas pers yang concern pada ini. Walaupun mungkin harus melalui demonstsrasi yang agak lama dulu,” ujar Manan ketika dihubungi, Minggu (10/2), sebagaimana dikutip dari Kompas.com

Manan mengatakan, AJI sudah memperjuangkan aspirasi ini sejak bulan lalu. Petisi untuk menolak pencabutan remisi terhadap Susrama juga telah dibuat. Manan senang karena upaya itu berhasil meyakinkan pemerintah untuk mencabut remisinya.

“Setidaknya sekarang sudah dicabut dan itu kami cukup senang dengan perkembangan itu,” kata dia.

Manan kembali menegaskan bahwa pemberian remisi terhadap Susrama akan menjadi preseden buruk. Nantinya akan menimbulkan kesan bahwa pelaku kekerasan terhadap jurnalis akan mendapat keringanan yang sama. “Itu kan mengurangi efek jera dan membuat orang tidak takut melakukan kekerasan terhadap wartawan,” ujar Manan.

Susrama dalang pembunuhan wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, pada 2009 silam. Susrama kemudian dijatuhi hukuman seumur hidup dan telah menjalani hukuman hampir 10 tahun. Namun, pemerintah memberikan remisi perubahan hukuman menjadi 20 tahun penjara.

Rencana pemberian remisi itu mendapatkan gelombang protes yang keras dari masyarakat. Akhirnya, kemarin Presiden Joko Widodo mengumumkan pencabutan remisi tersebut.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *