by

KPK dan Kejagung amankan buronan Sugiarto Wiharjo alias Alay di Bali

Kabarnas, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerjasama dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) menangkap terpidana perkara korupsi Sugiarto Wiharjo alias Alay  di sebuah restoran hotel di daerah Tanjung Benoa, Bali , Rabu (6/2) sore.

KPK dan tim intelijen Kejaksaan Tinggi Bali hari ini (Rabu, 6/2) sekitar pukul 15.40 Wita, menangkap  Sugiarto Wiharjo alias Alay direstoran hotel di daerah Tanjung Benoa, Bali saat sedang makan bersama keluarga,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu (6/2).

Sugiarto Wiharjo alias Alay  merupakan DPO Kejaksaan Agung RI/Kejaksaan Tinggi Lampung sejak tahun 2015, ditangkap oleh tim gabungan dari bidang intel Kejaksaan Tinggi Bali dan tim KPK yang dipimpin oleh Asintel Kejaksaan Tinggi Bali.

Alay merupakan terpidana kasus korupsi terkait Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah Kabupaten Lampung Timur. Bos Bank Tripanca itu divonis bersalah melakukan korupsi bersama-sama dengan Bupati Lampung Timur, Satono.

KPK memfasilitasi pencarian DPO semenjak diterima permintaan fasilitasi dari Kejaksaan Agung RI dan Kejaksaan Tinggi Lampung pada Mei 2017.

Selama masa pencarian, terpidana Alay selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan identitas berbeda. “Pada saat tim KPK mendapatkan informasi mengenai keberadaan DPO, KPK berkoordinasi dengan bidang Intel Kejaksaan Tinggi Bali dan langsung meluncur ke lokasi untuk mengecek keberadaan terpidana Alay di wilayah hukum Provinsi Bali,” ujar Febri.

Penangkapan DPO itu, merupakan bentuk sinergi antara KPK dan Kejaksaan dalam penegakan hukum. “Kami harap kerja sama yang lebih intensif ini dapat menghasilkan kinerja yang positif dalam pemberantasan korupsi,” tuturnya.

Dalam kasus yang sama Kejaksaan juga telah memasukkan  mantan Bupati Lampung Timur Satono ke daftar DPO setelah yang bersangkutan dijatuhi vonis 15 tahun di tingkat Kasasi.

“KPK mempertingatkan agar Satono segera menyerahkan diri ke Kejaksaan RI untuk menjalani pidananya. Bagi masyarakat yang mengetahui keberadaan Satono agar dapat menginformasikan ke kantor kepolisian setempat, menghubungi kejaksaan, atau menghubungi “call center” KPK 198,” kata Febri. Alay dan Satono telah terbukti melakukan korupsi bersama-sama dan berlanjut dan merugikan keuangan negara Rp.106,8 miliar. Berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI Nomor 510 K/PID.SUS/2014 tanggal 21 Mei 2014, Sugiarto Wiharjo alias Alay terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut sehingga dijatuhi pidana penjara 18 tahun dan pidana denda sebesar Rp.500 juta serta pidana tambahan berupa uang pengganti sebesar Rp.106,8 miliar. (Antara)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *